Suatu hari, seorang ahli 'Manajemen Waktu' berbicara di depan sekelompok
mahasiswa bisnis, dan ia memakai ilustrasi yg tidak akan dengan mudah dilupakan
oleh para siswanya.
Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia berkata:
"Baiklah, sekarang waktunya kuis " Kemudian dia mengeluarkan toples berukuran
galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.
Lalu ia
juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan
dengan hati- hati batu-batu itu kedalam toples.
Ketika batu itu memenuhi
toples sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke
dalamnya, dia bertanya:" Apakah toples ini sudah penuh?"
Semua siswanya
serentak menjawab, "Sudah!"
Kemudian dia berkata, "Benarkah?"
Dia
lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan
kerikil-kerikil itu ke dalam toples sambil sedikit mengguncang-guncangkannya,
sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu
itu.
Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah toples ini
sudah penuh?"
Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!",
salah satu dari siswanya menjawab.
"Bagus!" jawabnya.
Kembali dia
meraih kebawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan
pasir itu ke dalam toples, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-
ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan.
Sekali lagi dia bertanya,
"Apakah toples ini sudah penuh?"
"Belum!" serentak para siswanya menjawab
sekali lagi dia berkata, "Bagus!"
Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai
menyiramkan air ke dalam toples, sampai toples itu terisi penuh hingga ke ujung
atas.
Lalu si Ahli Manajemen Waktu ini memandang kpd para siswanya dan
bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"
Seorang siswanya yg
antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu
berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!"
"Bukan!",
jawab si ahli, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini mengajarkan kita
bahwa :
JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU
TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM TOPLES
TERSEBUT.
"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu,
suami/istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu,
mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam
hidupmu.
Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut
sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk
memperhatikannya.
Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam
prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil,
kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam
hidupmu".
Ilustrasi Manajemen waktu
Jumat, 04 Januari 2013
Diposting oleh
Mhd. Amar Faiz, A.Md.
di
19.47
0
komentar
Pakai Kerudung Tapi Tetap Seksi
Salah satu ciri fisik seorang wanita salehah adalah suka berpakaian sopan, dan
selalu mengenakan busana yang tertib menutupi aurat. Banyak kaum hawa yang
tampak berpakaian tapi pada hakikatnya mereka sama saja dengan "telanjang"-
busana mereka sengaja dibuat hanya menutupi bagian-bagian tertentu saja. Kendati
kain busana dirancang menutupi sekujur tubuh, namun lekuk molek dan bentuk
tubuhnya masih tetap tampak jelas dimata yang memandang. "Buat apa pake
kerudung, kalau masih tetap ingin tampil seksi di depan umum."timpal suami
penulis yang kebetulan bekerja di perusahaan milik Aa Gym, dan mengaku jarang
"menikmati" pemandangan yang penulis utarakan.
Kesimpulan yang penulis
kemukakan pada paragraf awal, penulis ambil setelah membuka terjemahan Al Qurán
Nur Karim hadiah Kerajaan Saudi, halaman 678, surat Al Ahzab ayat 59. Bunyi
firman-Nya adalah : "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min : "Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang." Kesimpulan itu diperkuat pula oleh pelajaran yang penulis
dapatkan dari pengajian rutin di Masjid Al Falah. Ustadzah Dyah Kusumastuti
pemateri saat itu menjelaskan, bahwa jilbab atau kerudung adalah model busana
yang dirancang untuk melindungi seluruh tubuh, terutama tubuh bagian atas,
kecuali muka dan telapak tangan. KH Ujang Muhammad, pembimbing jamaah ketika
penulis menunaikan ibadah umrahpun memberikan contoh yang lebih tegas dan
konkret kepada penulis : "Pakaian yang menutupi aurat itu, jelasnya seperti yang
ibu-ibu kenakan pada saat melaksanakan thawaf dan sa'i, waktu menunaikan umrah
seperti sekarang ini."
Dari pelajaran-pelajaran itu, akhirnya saya bisa
memetik hikmah, bahwasanya Allah mmerintahkan wanita berpakaian rapat agar
wanita yang beriman bisa dibedakan dari wanita yang tak beriman. Dengan
berpakaian seperti yang telah disyariátkan itu, wanita berimanpun tercegah dari
upaya-upaya kaum munafik yang sering berniat atau berlaku keonaran terhadap kaum
muslimah.
***
Suami penulis pernah mewanti-wanti, bahwasanya salah
satu fitrah wanita adalah rasa malu. Fitrah yang terejawantahkan kedalam sifat
malu (bukan dalam pengertian rendah diri) itu tersirat dari caranya berpakaian.
Wanita yang berjilbab rapat, seperti apa yang dijelaskan Ustadzah Masjid Al
Falah maupun KH Ujang Muhammad, menandakan keistiqamahannya dalam menjaga fitrah
atau rasa malunya agar tetap utuh. Sedang wanita yang masih fifty-fifty, atau
sama sekali enggan berpakaian sesuai syar'i, maka ia berarti 'setengah' atau
seluruhnya ingkar dari fitrahnya sebagai wanita.
"Terus, apa yang harus
Ummi lakukan agar fitrah Ummi sebagai wanita tetap utuh, Bi ?"
Suami
penulis tak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia bangkit menuju rak buku,
lantas kembali menyodorkan kitab terjemahan Al Qurán cetakan "pemkot" Madinah Al
Munawwarah. Setelah membaca taúdz dan basmalah, suami membacakan salah satu ayat
dalam surat An Nuur. Usai melantunkan satu ayat dari surat An Nuur itu, diapun
membacakan tafsir terjemahannya. Bunyinya : "Katakanlah kepada wanita yang
beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya,
dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak
daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung ke dadanya, dan
janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada: suami mereka, ayah mereka,
ayah suami mereka, putera-putera mereka, putera-putera suami mereka,
saudara-saudara lelaki mereka, putera-putera saudara lelaki mereka,
putera-putera saudara perempuan mereka, wanita-wanita Islam, hamba-hamba yang
mereka miliki, pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita,
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita." (Q.S. 24 :
31)
"Itulah sebabnya Ummi, kenapa Abi dulu mensyaratkan agar Ummi
berjilbab dulu sebelum menikah dengan Abi."ucap suami sambil meletakkan tafsir
qurán ke atas rak buku.
"Alah, tapi Abi suka juga 'kan melihat wanita
berkerudung tapi tampak seksi?" timpal penulis dengan maksud
menggoda.
"Lho, bagaimana sih Ummi ini ? Karena Abi, kawan-kawan Abi, dan
semua lelaki pada lazimnya mudah sekali tergoda, maka tugas Ummi dan kawan-kawan
Ummi-lah untuk mendakwahi sesama kaumnya. Jangan sampai Abi, kaumnya Abi, atau
ada lelaki yang terjerumus dan tergoda, gara-gara penampilan seronok seorang
wanita yang notabene adalah muslimah. Itu 'kan sama saja mendzhalimi lelaki, dan
mendzhalimi Ummi juga, kalau Abi sampai tergoda." balas suami penulis dengan
nada menggoda pula.
Diposting oleh
Mhd. Amar Faiz, A.Md.
di
05.07
0
komentar
Doakan Aku, Sayang
“Kamu berhak mendapatkan yang terbaik.” Kalimat itu muncul kembali dalam
benakku. Pernah terluncur dari bibir sahabatku saat percakapan panjang di
telepon itu berakhir pada keputusanku untuk tetap menikahi seorang lelaki yang
menurutnya tidak tepat untukku. Lelaki itu kini menjadi ayah dari calon anakku.
Seminggu kami berdebat. Dia sahabatku tersayang, tempat biasa aku
bercerita banyak, mungkin sambil tergugu. Tentang aku, tentang dia, tentang
ibuku yang dingin, tentang ibunya yang kolot. Tentang adik-adik kelas kami di
sekolah borju yang semakin memprihatinkan. Tentang kampus berembun ditingkahi
gilasan roda kereta di rel. Di tengah kedongkolan akan jadwal telat kereta yang
berbarengan dengan jadwal kuliah Pengantar Lingustik Umum. Sambil berbicara
tentang kakaknya yang sudah menginjak tiga puluh limaan tetapi belum ditemani
pendamping. Kini kami berdebat tentang sesosok lelaki yang berniat menjadi
pendampingku. Dan kini tidak lagi ditingkahi hiruk pikuk suasana Tebet-Depok,
melainkan melalui sambungan telepon kantor.
Temanku ini yang bertugas
“mewawancarai” lelaki itu. Pada awalnya begitu banyak kesamaan yang diceritakan
temanku itu tentangnya. Katanya aku begitu banyak miripnya dengan lelaki itu.
Aku suka berpetualang, begitu juga dia yang suka kemping ke sana ke mari. Ketika
menelisik lebih jauh dirinya, banyak juga perbedaan dalam diri kami. Dan temanku
yang pertama kali menunjukkan itu. Ternyata ia bukan orang berada, karena itu
dulu ia harus mengalah berhenti dari kuliahnya demi adiknya, dan dia harus
bekerja. Padahal saat itu ia baru saja mencicipi semester tiga informatikanya.
Saat ia bingung harus memikirkan bagaimana mencari tambahan biaya untuk keluarga
–karena ayahnya baru saja diPHK—mungkin aku sedang duduk-duduk bersama teman
kuliahku sambil bersenda di kursi taman kampus. Lalu saat itu ia harus rela
hanya kuliah diploma satu demi menggenggam sebuah ijazah selain ijazah SMU.
Karena itulah, kemudian mencari definisi sepadan menjadi sangat sulit
bagi kami. Dan temanku tersayang yang pertama kali melontarkan bahwa mungkin aku
bukan untuk lelaki itu dan dia bukan untuk aku. Berhari-hari aku mencari
jawaban. Apakah tesis itu benar adanya? Semua yang aku tanya rata-rata menjawab
demikian. Terlebih lagi kakak ipar lelakiku. Lelaki itu tidak pantas untukku.
Entah mengapa ada satu sisi nuraniku yang mengatakan itu tidak benar.
Apakah kalau aku lulusan sarjana sementara calon suamiku hanya lulus diploma
satu, menjadikan kami tidak serasi satu sama lain? Apakah dengan kewajibannya
secara ekonomi terhadap keluarga menjadikannya tidak pantas untukku? Lalu
bagaimana dengan Muhammad? Apakah ia tidak layak untuk Khadijah? Hanya karena
Muhammad seorang lelaki miskin?
Mungkin aku yang terlalu naif atau
temanku yang realistis. Aku tidak tahu. Mungkin orang bilang aku gila. Tapi aku
tidak bisa menafikan satu suara yang mengatakan bahwa semua itu atribut dunia
yang sifatnya relatif, serba tidak pasti, dan sementara. Dan aku tidak ingin
keputusanku aku sandarkan pada hal-hal yang aku pikir tidak sesuai dengan
orientasiku. Kampung akhirat. Akhirnya kami mendapatkan kesimpulan yang bertolak
belakang. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menikahi lelaki itu.
“Jadi
aku berhak mendapatkan yang terbaik, sementara dia nggak? Seorang residivis pun
berhak, kau tau?!” tangkisku sewot. Sementara di ujung telepon, suara khawatir
temanku terdengar semakin perlahan.
“Aku pengen kamu mendapat yang
terbaik. Itu aja,” ujarnya putus asa.
“Ya, aku mengerti,” lirihku. “Aku
hanya merasa aku bukan apa-apa. Tidak pantas aku minta yang terbaik. Aku sudah
curhat sama Allah, dan aku hanya menemukan jawaban ini. Doakan aku ya. Semoga
ini benar-benar keputusan dari Allah. Semoga ini yang terbaik.” Kalimat itu yang
terakhir aku ucapkan kepadanya.
Pagi agung, saat sebuah janji nikah
diucapkan lelaki itu di depan ayahku. Sebutir air mata jatuh dari bening mata
temanku. Tapi bibirnya membentuk senyum untukku. Doakan aku, sayang… doakan aku,
bisikku.
Diposting oleh
Mhd. Amar Faiz, A.Md.
di
05.03
0
komentar
Jaga Dermagamu, Dik!
“Dik, jangan gegabah seperti itu, pikirkan dulu masak-masak dampaknya kelak.
Sayang jika kau nodai apa yang sudah dengan susah payah kau bangun dan bina
selama ini. Bersabarlah, saatnya pasti akan tiba. Saat yang telah diputuskan
Allah sejak kau dalam rahim ibumu. Pada hari yang dijanjikan itu, pasti akan
bersua jua dirimu dengannya.”
“Adik sudah cukup lelah bersabar, kak.
Sampai kapan adik harus menunggu? Sementara detik demi detik terus berpacu, adik
sudah tidak muda lagi sekarang”
“Semua wanita memiliki fitrah yang sama,
ingin segera membina sebuah keluarga. Tapi jodoh itu kan Allah yang mengatur.
Kau tidak sendiri, dik! Masih banyak saudari-saudarimu yang usianya jauh lebih
tua darimu juga belum diperkenankan Allah untuk memikul amanah itu. Kau sendiri
tahu kan berapa umur kakak ketika menikah...”
“Ya, kalau pada akhirnya
happy ending seperti kakak...Kak, semua saudara seperjuangan juga sudah angkat
tangan membantu mempertemukan adik dengan laki-laki pilihan itu, terus apa nggak
boleh kalau kemudian adik berusaha sendiri?”
“Adikku sayang, bukan
berarti kau tidak boleh mencari sendiri. Tapi kecenderungan rasa kita pada
seseorang biasanya akan membutakan mata hati kita karena semua yang ada pada si
dia akan terlihat begitu indah tanpa cela. Cukuplah kakak yang mengalaminya.
Ingat, dik, sesal itu selalu datang diakhir cerita”
“Tapi laki-laki dari
kantor pusat itu orang baik, kak! Dia rajin sholat, santun dan ikut pengajian
rutin. Menurut teman-temanku sih begitu...”
“Teman-temanmu yang mana?
Teman-teman kantor yang kau bilang biasa dugem di kafe-kafe sampai pagi? Sudah
berapa kali kakak bilang jauhi mereka! Dan laki-laki itu, apakah bisa disebut
laki-laki baik kalau dia tak pernah absen mengirim puisi-puisi sentimentil
untukmu? Jangan-jangan dia juga biasa mengirim puisi-puisi itu ke
perempuan-perempuan lain. Atau gara-gara dia selalu mengirim sms untuk
mengingatkanmu sholat, lalu kau anggap dia itu laki-laki baik? Ironisnya,
mengapa dia tidak mengirim sms yang sama kepada teman-temanmu yang lain supaya
mereka juga ingat sholat...”
“Ah, pasti kakak mau bilang bahwa dia bukan
laki-laki yang tepat untuk adik, kan? Kak, yang namanya laki-laki sholeh itu
jauuuuh...jauh di ujung laut sana. Kalaupun dia mau berlabuh, pasti akan memilih
dermaga yang bagus. Dermaga yang cantik, pintar, kaya, tinggi, putih bersih,
dst...dst! Kalau seperti aku dengan tampang cuma nilai enam, IQ standar, pegawai
biasa dan kulit sawo kematangan sih nggak bakal masuk hitungan. Waiting listnya
kepanjangan, kak!”
“Ya, berusaha dong menjadi dermaga yang bagus.
Dermaga yang bagus kan nggak selalu dengan kriteria seperti itu. Perbaiki
dermagamu dengan mempercantik akhlak, memperbanyak ibadah, meningkatkan potensi
diri, dengan izin Allah pasti akan ada yang berlabuh juga.”
“Kakak nggak
ngerti sih. Siapa sih yang nggak mau berjodoh dengan laki-laki pilihan yang
punya tujuan hidup sama dengan kita. Laki-laki sholeh, yang akan membimbing
istri dan anak-anak ke surga...Kalaulah pada akhirnya adik berjodoh dengan
laki-laki yang “biasa-biasa saja”, bukan sesuatu yang nggak mungkin kan kalau
adik yang justru membimbing dia ke arah sana?”
“Dik, kakak sangat
mengerti kegundahan hatimu, karena kakak pernah mengalami masa-masa usia krisis
sepertimu. Dalam keputus-asaan, kakak mencoba mencari si dia dengan cara kakak
sendiri, tabrak sana sini. Kakak pun dulu mempunyai prinsip yang sama denganmu,
bertekat akan bimbing si dia menjadi laki-laki yang sholeh. Mencari-cari waktu
agar sering bersama, mengenalkan si dia lebih jauh dengan Islam. Meski tak
pernah dijamah, tapi itu namanya sudah berdua-duaan, berkhalwat! Toh, semua
berakhir mengecewakan, si dia tak seperti yang kakak harapkan. Mudahnya
berpaling ke perempuan lain, karena dengan kakak banyak yang tak bolehnya.
Begitu seterusnya, beberapa bahkan ada yang sudah ikut pengajian rutin sebelum
kenal dengan kakak. Mereka sempat membuat hari-hari kakak begitu berbunga-bunga,
sekaligus menderita! Karena semua bunga itu semu, dan tak akan pernah menjadi
buah. Kakak merasa lelah, capek! Ternyata apa yang kakak harapkan dengan
melanggar takdir itu pun tak pernah membuahkan hasil. Kakak telah mencoreng muka
sendiri, hina rasanya dimata Allah, dan malu dengan teman-teman seperjuangan.
Tapi Allah Maha Pemurah dan Penyayang, Allah mengirimkan seorang laki-laki
pilihanNya, seorang yang begitu baik untuk kakak. Ketahuilah dik, rasa bersalah
itu tidak pernah hilang, meski si Abang ikhlas dan mau mengerti dengan “story”
kakak sebelum menikah dengannya.”
“Lalu adik harus bagaimana mengisi
hari-hari sendiri, kak? Hampa rasanya, ilmu-ilmu yang adik terima tentang
membina rumah tangga sakinah, tentang mendidik dan membina anak, semua itu hanya
tinggal sebuah teori indah dalam khayal. Mubazir, karena nggak jelas kapan akan
dipraktekkan. Bagaimana jika sampai akhir hayat adik ditakdirkan tetap sendiri,
karena laki-laki pilihan itu tak kunjung datang?”
“Adikku sayang,
percayalah pada takdir Allah dan bersabarlah. Mungkin Allah belum mengabulkan
doa-doamu karena belum kau panjatkan dengan segenap kepasrahan, belum kau lepas
keangkuhanmu karena kau berusaha menerjang ketetapanNya yang berlaku bagimu.
Mungkin juga belum kau tinggalkan segala hal yang mendekati kemaksiatan. Itulah
yang menjauhkan terkabulnya doa-doa kita,dik. Ketahuilah jika Allah memang
berkehendak, jodoh adik bisa datang tanpa disangka dan diduga. Akan tetapi jika
kehendak Allah sebaliknya, Insya Allah, itulah hal terbaik yang ditetapkan Allah
bagi dirimu. Mungkin, Allah berkehendak memperjodohkan adik dengan bidadarinya
di surga kelak ”
***
“Saya terima nikahnya Muthmainnah
binti Syaiful dengan mas kawin....”
“Alhamdulillah,ya Allah... Kak, hari
yang dijanjikan itu akhirnya datang juga. Laki-laki pilihan itu kini mengikat
janji untuk berlabuh di dermagaku...”
“Subhanallah! Biarkan bulir-bulir
bahagia itu luruh di matamu,dik. Kakak bangga, kesabaran adik pada akhirnya
berbuah kebahagiaan. Kesucian dermagamu telah kau jaga dengan baik, dan hanya
kau peruntukkan bagi laki-laki sholeh yang mulai saat ini akan menemanimu
menempuh bahtera kehidupan, dunia akhirat. Barokallah, semoga Allah memberkatimu
dan memberikan berkah atas kamu serta menyatukan kalian berdua dalam kebaikan,
adikku sayang...”
Diposting oleh
Mhd. Amar Faiz, A.Md.
di
04.59
0
komentar
Bersahabat dengan Alhamdulillah
Salah satu gizi spiritual dalam menghadapi kehidupan adalah bersahabat dengan
“alhamdulillah” yang artinya segala puji bagi Allah Swt. Orang-orang yang sering
bersahabat dengan “gizi spiritual” ini, insyaAllah hidupnya akan lebih bahagia
dibanding yang mereka duga.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah
menitipkan kepadaku seorang suami, sebab banyak orang yang ingin bersuami namun
belum menemukannya. Suami dengan segala keangkuhannya, menyebabkan hambamu ini
mampu belajar sabar.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menitipkan
kepadaku seorang istri, sebab banyak orang yang ingin beristri namun belum
menemukannya. Istri dengan segala kesulitannya untuk dididik, menyebabkan
hambamu ini harus banyak belajar ilmu “Andragogy”, yaitu pendidikan untuk
orang-orang dewasa.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menitipkan
kepadaku beberapa anak, sebab banyak orang yang ingin punya anak namun belum
engkau izinkan dan juga banyak yang belum punya anak karena memang belum ketemu
jodoh. Anak dengan segala kesulitannya untuk dinasehati, menyebabkan hambamu ini
harus banyak menambah ilmu agar sesuai dengan perkembangan zaman anak-anak.
Dengan kehadiran anak-anak, justru menyebabkan hambamu malu kalau mau bertengkar
dengan istri dan suami.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau menitipkan
kepadaku seorang atasan pemarah dan sering mengungkit-ngungkit berbagai masalah,
sebab banyak orang yang tidak punya atasan, bukan karena dirinya atasan tapi
karena dirinya menganggur. Dengan atasan pemarah hambamu berkesempatan untuk
mendoakan semoga beliau segera sadar bahwa kemarahan akan menghancurkan siklus
kehidupan dirinya sendiri.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau menitipkan
kepadaku banyak karyawan, yang sebagiannya suka demo minta tuntutan gaji dan
kesejahteraan lainnya, sebab banyak orang tidak punya karyawan sebab sudah lima
tahun belakangan ini perusahaannya gulung tikar dan bahkan tikarnyapun sampai
tidak ada yang digulung. Dengan punya karyawan, semoga hambamu bisa menjadi
salah satu jalan rizki bagi mereka dengan seizin Engkau ya
Allah.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah menitipkan orang-orang
disekelilingku sebagian ada yang menyakiti, walaupun hamba-Mu ini telah berusaha
untuk berbuat baik kepada siapapun sekuat kemampuan. Sebab, banyak orang yang
tidak pernah disakiti orang lain karena dalam hidupnya tidak pernah bergaul
dengan masyarakat banyak. Semoga dengan disakiti dan hambamu tetap ingin berbuat
baik dengan yang menyakiti menyebabkan Engkau akan mengabulkan doa-doa orang
yang terdhzolimi ini.
Alhamdulillah ya Allah, Engkau memberi kesempatan
kepadaku, kuliah tidak sesuai dengan jurusan pilihan pertama, sebab banyak orang
yang tidak pernah menikmati jurusan kuliah karena kekurangan dana untuk memenuhi
keinginannya kuliah. Dengan kuliah tidak sesuai jurusan, semoga akan punya lebih
dari satu keahlian, keahlian pertama adalah jurusan ketika kuliah dan keahlian
lainnya adalah mempelajari sendiri banyak hal yang dulu
dicita-citakan.
Sahabat CyberMQ,
Banyak hal didunia ini yang bisa
kita syukuri dengan mengucapkan “Alhamdulillah”, dan dengan sering mengucapkan
alhamdulillah, milyaran peluang prestasi akan mengejar-ngejar
kita.
Banyak hal didunia ini yang kita tidak siap menyukuri dengan
mengucapkan “Alhamdulillah dan dengan sering merasa berat dan bahkan enggan
mengucapkan alhamdulillah, milyaran peluang prestasi akan lari meninggalkan
kita.
Berani hadapi tantangan bersahabat dengan alhamdulillah agar hidup
dikejar-kejar prestasi??? Bagaimana pendapat sahabat!!!
Diposting oleh
Mhd. Amar Faiz, A.Md.
di
04.52
0
komentar
PRIBADI MUSLIM BERPRESTASI
Senin, 21 November 2011
Sekiranya kita hendak berbicara tentang Islam dan kemuliaannya, ternyata tidaklah cukup hanya berbicara mengenai ibadah ritual belaka. Tidaklah cukup hanya berbicara seputar shaum, shalat, zakat, dan haji. Begitupun jikalau kita berbicara tentang peninggalan Rasulullah SAW, maka tidak cukup hanya mengingat indahnya senyum beliau, tidak hanya sekedar mengenang keramah-tamahan dan kelemah-lembutan tutur katanya, tetapi harus kita lengkapi pula dengan bentuk pribadi lain dari Rasulullah, yaitu : beliau adalah orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi!
Hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah SAW selalu terjaga mutunya. Begitu mempesona kualitasnya. Shalat beliau adalah shalat yang bermutu tinggi, shalat yang prestatif, khusyuk namanya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara kualitasnya, bermutu tinggi, ikhlas namanya. Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa dijaga untuk suatu mutu yang tertinggi.
Ya, beliau adalah pribadi yang sangat menjaga prestasi dan mempertahankan kualitas terbaik dari apa yang sanggup dilakukannya. Tidak heran kalau Allah Azza wa Jalla menegaskan, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah ..." (QS. Al Ahzab [33] : 21)
Kalau ada yang bertanya, mengapa sekarang umat Islam belum ditakdirkan unggul dalam kaitan kedudukannya sebagai khalifah di muka bumi ini? Seandainya kita mau jujur dan sudi merenung, mungkin ada hal yang tertinggal di dalam menyuritauladani pribadi Nabi SAW. Yakni, kita belum terbiasa dengan kata prestasi. Kita masih terasa asing dengan kata kualitas. Dan kita pun kerapkali terperangah manakala mendengar kata unggul. Padahal, itu merupakan bagian yang sangat penting dari peninggalan Rasulullah SAW yang diwariskan untuk umatnya hingga akhir zaman.
Akibat tidak terbiasa dengan istilah-istilah tersebut, kita pun jadinya tidak lagi merasa bersalah andaikata tidak tergolong menjadi orang yang berprestasi. Kita tidak merasa kecewa ketika tidak bisa memberikan yang terbaik dari apa yang bisa kita lakukan. Lihat saja shalat dan shaum kita, yang merupakan amalan yang paling pokok dalam menjalankan syariat Islam. Kita jarang merasa kecewa andaikata shalat kita tidak khusyuk. Kita jarang merasa kecewa manakala bacaan kita kurang indah dan mengena. Kita pun jarang kecewa sekiranya shaum Ramadhan kita berlalu tanpa kita evaluasi mutunya.
Kita memang banyak melakukan hal-hal yang ada dalam aturan agama tetapi kadang-kadang tidak tergerak untuk meningkatkan mutunya atau minimal kecewa dengan mutu yang tidak baik. Tentu saja tidak semua dari kita yang memiliki kebiasaan kurang baik semacam ini. Akan tetapi, kalau berani jujur, mungkin kita termasuk salah satu diantara yang jarang mementingkan kualitas.
Padahal, adalah sudah merupakan sunnatullah bahwa yang mendapatkan predikat terbaik hanyalah orang-orang yang paling berkualitas dalam sisi dan segi apa yang Allah takdirkan ada dalam episode kehidupan dunia ini. Baik dalam urusan duniawi maupun ukhrawi, Allah Azza wa Jalla selalu mementingkan penilaian terbaik dari mutu yang bisa dilakukan.
Misalnya saja shalat, "Qadaflahal mu’minuun. Alladziina hum fii shalaatihim" (QS. Al Mu’minuun [23] : 1-2). Amat sangat berbahagia serta beruntung bagi orang yang khusyuk dalam shalatnya. Artinya, shalat yang terpelihara mutunya, yang dilakukan oleh orang yang benar-benar menjaga kualitas shalatnya. Sebaliknya, "Fawailullilmushalliin. Alladziina hum’an shalatihim saahuun" (QS. Al Maa’uun [107] : 4-5). Kecelakaanlah bagi orang-orang yang lalai dalam shalatnya!
Amal baru diterima kalau benar-benar bermutu tinggi ikhlasnya. Allah Azza wa Jalla berfirman, "Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat serta menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus" (QS. Al Bayyinah [98] : 5). Allah pun tidak memerintahkan kita, kecuali menyempurnakan amal-amal ini semata-mata karena Allah. Ada riya sedikit saja, pahala amalan kita pun tidak akan diterima oleh Allah Azza wa Jalla. Ini dalam urusan ukhrawi.
Demikian juga dalam urusan duniawi produk-produk yang unggul selalu lebih mendapat tempat di masyarakat. Lebih mendapatkan kedudukan dan penghargaan sesuai dengan tingkat keunggulannya. Para pemuda yang unggul juga bisa bermamfaat lebih banyak daripada orang-orang yang tidak memelihara dan meningkatkan mutu keunggulannya.
Pendek kata, siapapun yang ingin memahami Islam secara lebih cocok dengan apa-apa yang telah dicontohkan Rasul, maka bagian yang harus menjadi pedoman hidup adalah bahwa kita harus tetap tergolong menjadi orang yang menikmati perbuatan dan karya terbaik, yang paling berkulitas. Prestasi dan keunggulan adalah bagian yang harus menjadi lekat menyatu dalam perilaku kita sehari-hari.
Kita harus menikmati karya terbaik kita, ibadah terbaik kita, serta amalan terbaik yang harus kita tingkatkan. Tubuh memberikan karya terbaik sesuai dengan syariat dunia sementara hati memberikan keikhlasan terbaik sesuai dengan syariat agama. Insya Allah, di dunia kita akan memperoleh tempat terbaik dan di akhirat pun mudah-mudahan mendapatkan tempat dan balasan terbaik pula.
Tubuh seratus persen bersimbah peluh berkuah keringat dalam memberikan upaya terbaik, otak seratus persen digunakan untuk mengatur strategi yang paling jitu dan paling mutakhir, dan hati pun seratus persen memberikan tawakal serta ikhlas terbaik, maka kita pun akan puas menjalani hidup yang singkat ini dengan perbuatan yang Insya Allah tertinggi dan bermutu. Inilah justru yang dikhendaki oleh Al Islam, yang telah dicontohkan Rasulullah SAW yang mulia, para sahabatnya yang terhormat, dan orang-orang shaleh sesudahnya.
Oleh sebab itu, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada setiap diri hamba-hambanya. Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Allah SWT, Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan segala isinya ini!
Ingat, wahai hamba-hamba Allah, "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah ...!’ (QS. Ali Imran [3] : 110).
Diposting oleh
Mhd. Amar Faiz, A.Md.
di
04.18
1 komentar
Lupakan Jasa dan Kebaikan Diri
Semakin kita sering menganggap diri penuh jasa dan penuh kebaikan pada orang lain, apalagi menginginkan orang lain tahu akan jasa dan kebaikan diri kita, lalu berharap agar orang lain menghargai, memuji, dan membalasnya maka semua ini berarti kita sedang membangun penjara untuk diri sendiri dan sedang mempersiapkan diri mengarungi samudera kekecewaan dan sakit hati.
Ketahuilah bahwa semakin banyak kita berharap sesuatu dari selain Allah SWT, maka semakin banyak kita akan mengalami kekecewaan. Karena, tiada sesuatu apapun yang dapat terjadi tanpa ijin Allah. Sesudah mati-matian berharap dihargai makhluk dan Allah tidak menggerakkan orang untuk menghargai, maka hati ini akan terluka dan terkecewakan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk. Belum lagi kerugian di akhirat karena amal yang dilakukan berarti tidak tulus dan tidak ikhlas, yaitu beramal bukan karena Allah.
Selayaknya kita menyadari bahwa yang namanya jasa atau kebaikan kita terhadap orang lain, sesungguhnya bukanlah kita berjasa melainkan Allah-lah yang berbuat, dan kita dipilih menjadi jalan kebaikan Allah itu berwujud. Sesungguhnya terpilih menjadi jalan saja sudah lebih dari cukup karena andaikata Allah menghendaki kebaikan itu terwujud melalui orang lain maka kita tidak akan mendapat ganjarannya.
Jadi, ketika ada seseorang yang sakit, lalu sembuh berkat usaha seorang dokter. Maka, seberulnya bukan dokter yang menyembuhkan pasien tersebut, melainkan Allah-lah yang menyembuhkan, dan sang dokter dipilih menjadi jalan. Seharusnya dokter sangat berterima kasih kepada sang pasien karena selain telah menjadi ladang pahala untuk mengamalkan ilmunya, juga telah menjadi jalan rizki dari Allah baginya. Namun, andaikata sang dokter menjadi merasa hebat karena jasanya, serta sangat menuntut penghormatan dan balas jasa yang berlebihan maka selain memperlihatkan kebodohan dan kekurangan imannya juga semakin tampak rendah mutu kepribadiannya (seperti yang kita maklumi orang yang tulus dan rendah hati selalu bernilai tinggi dan penuh pesona). Selain itu, di akhirat nanti niscaya akan termasuk orang yang merugi karena tidak beroleh pahala ganjaran.
Juga, tidak selayaknya seorang ibu menceritakan jasanya mulai dari mengandung, melahirkan, mendidik, membiayai, dan lain-lain semata-mata untuk membuat sang anak merasa berhutang budi. Apalagi jika dilakukan secara emosional dan proporsional kepada anak-anaknya, karena hal tersebut tidak menolong mengangkat wibawa sang ibu bahkan bisa jadi yang terjadi adalah sebaliknya. Karena sesungguhnya sang anak sama sekali tidak memesan untuk dilahirkan oleh ibu, juga semua yang ibunya lakukan itu adalah sudah menjadi kewajiban seorang ibu.
Percayalah bahwa kemuliaan dan kehormatan serta kewibawaan aeorang ibu/bapak justru akan bersinar-sinar seiring dengan ketulusan ibu menjalani tugas ini dengan baik, Insya Allah. Allah-lah yang akan menghujamkan rasa cinta di hati anak-anak dan menuntunnya untuk sanggup berbalas budi.
Seorang guru juga harus bisa menahan diri dari ujub dan merasa berjasa kepada murid-muridnya. Karena memang kewajiban guru untuk mengajar dengan baik dan tulus. Dan memang itulah rizki bagi seseorang yang ditakdirkan menjadi guru. Karena setiap kebaikan yang dilakukan muridnya berkah dari tuntunan sang guru akan menjadi ganjaran tiada terputus dan dapat menjadi bekal penting untuk akhirat. Kita boleh bercerita tentang suka duka dan keutamaan mengajar dengan niat bersyukur bukan ujub dan takabur.
Perlu lebih hati-hati menjaga lintasan hati dan lebih menahan diri andaikata ada salah seorang murid kita yang sukses, jadi orang besar. Biasanya akan sangat gatal untuk mengumumkan kepada siapapun tentang jasanya sebagai gurunya plus kadang dengan bumbu penyedap cerita yang kalau tidak pada tempatnya akan menggelincirkan diri dalam riya dan dosa.
Andaikata ada sebuah mobil yang mogok lalu kita membantu mendorongnya sehingga mesinnya hidup dan bisa jalan dengan baik. Namun ternyata sang supir sama sekali tidak berterima kasih. Jangankan membalas jasa, bahkan menengok ke arah kita pun tidak sama sekali.. andaikata kita merasa kecewa dan dirugikan lalu dilanjutkan dengan acara menggerutu, menyumpahi, lalu menyesali diri plus memaki sang supir. Maka lengkaplah kerugiannya lahir maupun batin. Dan tentu saja amal pun jadi tidak berpahala dalam pandangan Allah karena tidak ikhlas, yaitu hanya berharap balasan dari makhluk.
Seharusnya yang kita yakini sebagai rizki dan keberuntungan kita adalah takdir diri ini diijinkan Allah bisa mendorong mobil. Silahkan bayangkan andaikata ada mobil yang mogok dan kita tidak mengetahuinya atau kita sedang sakit tidak berdaya, niscaya kita tidak mendapat kesempatan beramal dengan mendorong mobil. Atau diri ini sedang sehat perkasa tapi mobil tidak ada yang mogok, lalu kita akan mendorong apa?
Takdir mendorong mobil adalah investasi besar, yakni kalau dilaksanakan penuh dengan ketulusan niscaya Allah yang Maha Melihat akan membalasnya dengan balasan yang mengesankan. Bukankah kita tidak tahu kapan kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan, maka takdir beramal adalah investasi.
Mari kita bersungguh-sungguh untuk terus berbuat amal kebajikan sebanyak mungkin dan sesegera mungkin. Setelah itu mari kita lupakan seakan kita tidak pernah melakukannya, cukuplah Allah yang Maha Melihat saja yang mengetahuinya. Allah SWT pasti menyaksikannya dengan sempurna dan membalasnya dengan balasan yang sangat tepat baik waktu, bentuk, ataupun momentumnya. Salah satu ciri orang yang ikhlas menurut Imam Ali adalah senang menyembunyikan amalannya bagai menyembunyikan aib-aibnya.
Selamat berbahagia bagi siapapun yang paling gemar beramal dan paling cepat melupakan jasa dan kebaikan dirinya, percayalah hidup ini akan jauh lebih nikmat, lebih ringan, dan lebih indah. Insya Allah.
Diposting oleh
Mhd. Amar Faiz, A.Md.
di
04.11
0
komentar
Keluarga Kunci Kesuksesan
Seringkali kita dengar orang-orang yang membangun
karir bertahun-tahun akhirnya terpuruk oleh kelakuan keluarganya. Ada yang dimuliakan di kantornya tapi dilumuri aib oleh anak-anaknya sendiri, ada yang cemerlang karirnya di perusahaan tapi akhirnya pudar oleh perilaku istrinya dan anaknya. Ada juga yang populer di kalangan masyarakat tetapi tidak populer di hadapan keluarganya. Ada yang disegani dan dihormati di lingkungannya tapi oleh anak istrinya sendiri malah
dicaci, sehingga kita butuh sekali keseriusan untuk menata strategi yang tepat, guna meraih kesuksesan yang benar-benar hakiki. Jangan sampai kesuksesan kita semu. Merasa sukses padahal gagal, merasa mulia padahal hina, merasa terpuji padahal buruk, merasa cerdas padahal bodoh, ini tertipu!
Penyebab kegagalan seseorang diantaranya :
- Karena dia tidak pernah punya waktu yang memadai
untuk mengoreksi dirinya. Sebagian orang terlalu sibuk dengan kantor, urusan luar dari dirinya akibatnya dia kehilangan fondasi yang kokoh. Karena orang tidak bersungguh-sungguh menjadikan keluarga sebagai basis yang penting untuk kesuksesan.
- Sebagian orang hanya mengurus keluarga dengan sisa waktu, sisa pikiran, sisa tenaga, sisa perhatian, sisa perasaan, akibatnya seperti bom waktu. Walaupun uang banyak tetapi miskin hatinya. Walaupun kedudukan tinggi tapi rendah keadaan keluarganya.
Oleh karena itulah, jikalau kita ingin sukses, mutlak bagi kita untuk sangat serius membangun keluarga sebagai basis (base), Kita harus jadikan keluarga kita menjadi basis ketentraman jiwa. Bapak pulang kantor begitu lelahnya harus rindu rumahnya menjadi oase ketenangan. Anak pulang dari sekolah harus merindukan suasana aman di rumah. Istri demikian juga. Jadikan rumah kita menjadi oase ketenangan, ketentraman, kenyamanan sehingga bapak, ibu dan anak sama-sama senang dan betah tinggal dirumah.
Agar rumah kita menjadi sumber ketenangan, maka perlu diupayakan:
- Jadikan rumah kita sebagai rumah yang selalu dekat dengan Allah SWT, dimana di dalamnya penuh dengan aktivitas ibadah; sholat, tilawah qur'an dan terus menerus digunakan untuk memuliakan agama Allah, dengan kekuatan iman, ibadah dan amal sholeh yang baik, maka rumah tersebut dijamin akan menjadi sumber ketenangan.
- Seisi rumah Bapak, Ibu dan anak harus punya kesepakatan untuk mengelola perilakunya, sehingga bisa menahan diri agar anggota keluarga lainnya merasa aman dan tidak terancam tinggal di dalam rumah itu, harus ada kesepakatan diantara anggota keluarga bagaimana rumah itu tidak sampai menjadi sebuah neraka.
- Rumah kita harus menjadi "Rumah Ilmu" Bapak, Ibu dan anak setelah keluar rumah, lalu pulang membawa ilmu dan pengalaman dari luar, masuk kerumah berdiskusi dalam forum keluarga; saling bertukar pengalaman, saling memberi ilmu, saling melengkapi sehingga menjadi sinergi ilmu. Ketika keluar lagi dari rumah terjadi peningkatan kelimuan, wawasan dan cara berpikir akibat masukan yang dikumpulkan dari luar oleh semua anggota keluarga, di dalam rumah diolah, keluar rumah jadi makin lengkap.
- Rumah harus menjadi "Rumah pembersih diri" karena tidak ada orang yang paling aman mengoreksi diri kita tanpa resiko kecuali anggota keluarga kita. Kalau kita dikoreksi di luar resikonya terpermalukan, aib tersebarkan tapi kalau dikoreksi oleh istri, anak dan suami mereka masih bertalian darah, mereka akan menjadi pakaian satu sama lain.Oleh karena itu,barangsiapa yang ingin terus menjadi orang yang berkualitas, rumah harus kita sepakati menjadi rumah yang saling membersihkan seluruh anggota keluarga. Keluar banyak kesalahan dan kekurangan, masuk kerumah saling mengoreksi satu sama lain sehingga keluar dari rumah, kita bisa mengetahui kekurangan kita tanpa harus terluka dan tercoreng karena keluarga yang mengoreksinya.
- Rumah kita harus menjadi sentra kaderisasi sehingga Bapak-Ibu mencari nafkah, ilmu, pengalaman wawasan untuk memberikan yang terbaik kepada anak-anak kita sehingga kualitas anak atau orang lain yang berada dirumah kita, baik anak kandung, anak pungut atau orang yang bantu-bantu di rumah, siapa saja akan meningkatkan kualitasnya. Ketika kita mati, maka kita telah melahirkan generasi yang lebih baik. Tenaga, waktu dan pikiran kita pompa untuk melahirkan generasi-generasi yang lebih bermutu, kelak lahirlah kader-kader pemimpin yang lebih baik. Inilah sebuah rumah tangga yang tanggung jawabnya tidak hanya pada rumah tangganya tapi pada generasi sesudahnya serta bagi lingkungannya.
Diposting oleh
Mhd. Amar Faiz, A.Md.
di
03.57
0
komentar
Sejarah Perkembangan Sumberdaya Manusia Pertanian
Minggu, 20 November 2011·Awal perkembangan sumberdaya manusia dimulai dari peran Kebun Raya Bogor yang telah berdiri sejak tahun 1817. Fungsi Kebun Raya yang semula untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang botani tropis kemudian berkembang untuk studi pertanian rakyat bagi bumi putera dan perkebunan milik bangsa Eropa.
· Pada tahun 1876, Kebun Raya membangun Kebun Budidaya Tanaman (Kultuurtuin) di Cikeumeuh Bogor dengan mandat untuk melaksanakan 3 fungsi, yaitu: penelitian, pendidikan, dan penyuluhan. Disamping membangun kebun percobaan dengan fungsi penelitian, juga dibangun kebun-kebun percontohan dan sekolah pertanian sebagai bagian dari fungsi penyuluhan dan pendidikan pertanian.
Dengan berdirinya Departemen Pertanian (Departemen Van Landbouw, 1905) penyelenggaraan pendidikan dan penyuluhan pertanian bagi rakyat pribumi menjadi lebih mantap dan profesional setelah mendapat dukungan dan persetujuan dari Departemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan pada tahun 1900. Secara berturut-turut berkembang cabang pendidikan pertanian, seperti Sekolah Hortikultura (1900), Sekolah Pertanian (1903), Sekolah Dokter Hewan (1907), Culture School (1913), Lanbouw Bedriff School (1922), dan Middlebare Boschbauw School pada tahun 1938.
Setelah Indonesia merdeka, pengembangan SDM pertanian diupayakan lebih serius lagi dibawah pembinaan Kementerian Kemakmuran (1945-1950). Lembaga Kementerian Kemakmuran mengalami reorganisasi menjadi Kementerian Pertanian (1950-1960) dan kemudian menjadi Departemen Pertanian hingga saat ini. Agar penyelenggaraan pengembangan SDM pertanian dapat lebih memenuhi kebutuhan pembangunan pertanian, maka Kementerian/Departemen Pertanian membentuk lembaga pendidikan dan penyuluhan pertanian di tingkat pusat yang langsung berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian.
Pada awalnya kegiatan pendidikan dan latihan di lingkungan Departemen Pertanian diselenggarakan oleh masing-masing unit Eselon I Departemen Pertanian. Keadaan ini menyebabkan terciptanya aparat pendidikan pertanian yang satu sama lain bekerja secara terpisah dan kurang sesuai dengan keperluan pembangunan pertanian.
Dengan adanya Keputusan Menteri Pertanian Nomor 88/Kpts/Org/2/1972 yang merupakan pelaksanaan dari Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1972 menetapkan garis-garis kebijaksanaan pendidikan dalam sektor pertanian sehingga dapat memperbaiki keadaan tersebut. Salah satu kebijaksanaan yang penting dalam Keputusan tersebut adalah ditetapkannya nama Badan Pembinaan Pendidikan dan Latihan Pertanian (BPPLP) sebagai penanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan di lingkungan Departemen Pertanian. Sedangkan pendidikan pertanian itu dilaksanakan melalui sekolah-sekolah pertanian proyeksi baru yang bersifat polivalen di SPMA, SNAKMA dan SUPM Budidaya sebagai satu kelompok Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP).
Sejak tahun 1968-1974 terjadi penggabungan departemen atau sebagian departemen lain menggabungkan kedalam Departemen Pertanian, sehingga susunan organisasi Departemen Pertanian menjadi:
- Menteri Pertanian;
- Sekretaris Jenderal;
- Direktorat Jenderal Pertanian;
- Direktorat Jenderal Kehutanan;
- Direktorat Jenderal Peternakan;
- Direktorat Jenderal Perikanan;
- Direktorat Jenderal Perkebunan;
- BIMAS;
Susunan Organisasi Departemen Pertanian ini berlaku sampai dengan Tahun 1974, kemudian muncul ketetapan baru yaitu Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Organisasi Departemen dan Keputusan Presiden nomor 45 Tahun 1974 tentang Susunan Organisasi Departemen.
Dalam Keputusan Presiden Nomor 45 Tahun 1974 diputuskan bahwa pada Departemen Pertanian dibentuk dua unit eselon I baru, yaitu :
- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian; dan
- Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian.
Dengan demikian Badan Pembinaan Pendidikan dan Latihan Pertanian (BPPLP) barulah menjadi Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian (BPLPP), sejak tahun 1974 dengan salah satu tupoksinya menyelenggarakan penyuluhan pertanian di tingkat pusat maupun di tingkat daerah dilaksanakan oleh BPLPP.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor OT.210/706/Kpts/9/1983, Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian mempunyai tugas membina dan mengkoordinasikan kegiatan pendidikan, latihan dan penyuluhan pertanian yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Pertanian.
Sesuai dengan perubahan struktur organisasi melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 560/Kpts/OT.210/8/1990, nama Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian berubah menjadi Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian dengan tugas pokok mengkoordinasikan, membina dan melaksanakan pendidikan dan pelatihan pertanian serta merumuskan metodologi penyuluhan berdasarkan kebijaksanaan Menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Selanjutnya tugas Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian disempurnakan kembali melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 96/Kpts/OT.210/2/1994, dengan tugas dan fungsi mengkoordinasikan, membina dan melaksanakan pendidikan dan pelatihan pertanian dalam rangka pelaksanaan tugas pokok departemen berdasarkan kebijaksanaan menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan Keputusan Menteri tersebut Badan Diklat Pertanian terdiri dari :
1. Sekretariat Badan Diklat Pertanian;
2. Pusat Pembinaan dan Pendidikan Pertanian;
3. Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai;
4. Pusat Pendidikan dan Latihan Penyuluhan Pertanian dan
Operasionalisasi pelaksanaan kegiatan diklat pertanian dilaksanakan oleh 8 jenis Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Diklat Pertanian dengan jumlah 61 UPT yang terdiri dari :
1. Sekolah Tinggi Perikanan (STP);
2. Akademi Penyuluhan Pertanian (APP);
3. Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP);
4. Balai Penataran dan Latihan Pegawai (BPLP);
5. Balai Latihan Pegawai Pertanian (BLPP);
6. Balai Keterampilan Penangkapan Ikan (BKPI);
7. Balai Pendidikan dan Pelatihan Fungsional Pertanian (BPPFP);
8. Balai Metodologi Informasi Pertanian BMIP), dan
9. Balai Informasi Pertanian (BIP).
Mulai tahun 1994/1995, pengelolaan BIP dialihkan kepada Badan Litbang Pertanian.
Perubahan/ penyempurnaan organisasi tersebut merupakan antisipasi pengaruh-pengaruh atas perkembangan program pembangunan pertanian khususnya pembangunan nasional pada umumnya. Diharapkan dengan organisasi yang ada dapat dijadikan suatu perangkat kebijaksanaan dalam pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia, aparatur pemerintahan yang dilaksanakan untuk :
1. meningkatkan penguasaan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi pertanian yang berorientasi agrbisnis dan agroindustri; serta
2. meningkatkan penguasaan kualitas pengetahuan keterampilan disertai dengan pembinaan semangat kerja, disiplin, tanggung jawab moral, etika dan mental sehat dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pada tahun 1998 dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 1016/Kpts/OT.210/2/1998 Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian dirubah menjadi Badan Pendidikan dan Pelatihan Pertanian. Dengan perubahan tersebut tugas dan fungsi dari Badan menjadi Badan Pendidikan dan Pelatihan Pertanian tugas menyelenggarakan pengkajian dan perumusan rencana pengembangan sumber daya manusia pertanian dan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan pertanian serta pembinaan penyuluhan pertanian dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas departemen berdasarkan kebijaksanaan Menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tersebut, Badan Pendidikan dan Pelatihan Pertanian menyelenggarakan fungsi :
a. pengkajian dan perencanaan pengembangan sumber daya manusia pertanian, dan
b. pembinaan penyelenggaraan kegiatan pendidikan dan pelatihan pegawai pertanian,
Dengan berkembangnya tugas-tugas urusan pemerintah maupun pembangunan pertanian, maka kelembagaan Badan Diklat Pertanian juga berkembang dan namanya berubah menjadi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian dan Penyuluhan Pertanian berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 160/Kpts/OT.210/12/2000. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penyuluhan Pertanian mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan Pendayaan sumber daya manusia dan penyuluhan pertanian berdasarkan Menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam melaksanakan tugas tersebut Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penyuluhan Pertanian menyelenggarakan fungsi :
a. perumusan kebijaksanaan dan perencanaan pengembangan sumber daya manusia dan penyuluhan pertanian;
b. pengkajian dan penyediaan informasi sumber daya manusia dan penyuluhan pertanian;
c. pengelolaan pendidikan dan pelatihan pertanian;
d. evaluasi kebijaksanaan dan pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia dan penyuluhan pertanian;
e. pelaksanaan administrasi badan.
Telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 01/Kpts/OT.210/1/2001 dan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 99/Kpts/OT.210/2/2001 sebagai pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 165 Tahun 2000, maka disempurnakan Organisasi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penyuluhan Pertanian menjadi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian mempunyai tugas melaksanakan pengembangan dan pendayagunaan sumber daya manusia pertanian.
Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam tersebut di atas, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian menyelenggarakan fungsi :
a. Perumusan kebijakan dan perencanaan pengembangan sumber daya manusia pertanian;
b. Pengembangan penyuluhan pertanian;
c. Pembinaan lembaga pendidikan dan pelatihan pertanian;
d. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan pegawai pertanian;
e. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan agribisnis;
f. Pelaksanaan administrasi Badan.Visi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian adalah terwujudnya sumber daya manusia pertanian tangguh dan berkarakter, dalam rangka menumbuhkembangkan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkeadilan, berkelanjutan, dan terdesentralistis.Misi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian adalah memberdayakan dan meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia pertanian dalam rangka landasan pengembangan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing berkerakyatan, dan berkelanjutan.
Susunan Organisasi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian terdiri dari:
a. Sekretaris Badan;
b. Pusat Pengkajian Sumber Daya Manusia Pertanian;
c. Pusat Pengembangan Penyuluhan Pertanian;
d. Pusat Pengembangan Pendidikan Pertanian;
e. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Pertanian;
f. Pusat Pengembangan Kewirausahaan Agribisnis.
Kebijaksanaan Strategis Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian:
a. meningkatkan daya saing Sumber Daya Manusia Pertanian;
b. mengoptimalkan fungsi kelembagaan pertanian;
c. membangun sistem pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian;
d. membangun piranti lunak dan piranti keras pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
Kebijakan Operasional Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian :
1. menyelenggarakan kegiatan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia Pertanian dalam rangka pengembangan sistem dan usaha agribisnis;
2. pelaksanakan revitalisasi aparatur dan sistem kelembagaan pertanian berdasarkan tugas pokok dan fungsi serta sesuai dengan peta kewenangan pusat dan daerah;
3. memperkuat mekanisme keterkaitan kelembagaan pertanian yang partisipatif, berkeadilan, berkelanjutan dan terdesentralisasi;
4. mendorong sistem dan usaha agribisnis berbasis pedesaan dengan memacu pemanfaatan teknologi spesifik dan jaringan kerjasama kemitraan antar kelembagaan pertanian.
Tujuan dari pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian adalah meningkatkan kualitas sumber daya pertanian melalui jalur pelayanan pendidikan dan pelatihan pertanian.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian memiliki Unit Pelaksana Teknis (UPT) yaitu :
I. Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP)
STPP merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang bertugas melaksanakan dan mengembangkan program pendidikan profesional D IV dibidang ilmu-ilmu penyuluhan pertanian, dengan sasaran penyuluh pertanian, petugas pertanian dan masyarakat pertanian lainnya atau lulusan Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP). Jumlah STPP ada 6 (enam) yaitu:
1. STPP Bogor
2. STPP Malang
3. STPP Medan
4. STPP Magelang
5. STPP Gowa
6. STPP Manokwari
II. Pusat Manajemen Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (PMPSDMP)
PMPSDMP merupakan Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang terletak di Ciawi Bogor dan mempunyai tugas menyelenggarakan diklat manajemen dan pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian untuk aparat dan petugas lingkup pertanian serta masyarakat pertanian lainnya.
III. Balai Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pertanian
Balai Diklat Pertanian merupakan Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang mempunyai tugas menyelenggarakan diklat keahlian agribisnis dan mekanisasi pertanian untuk aparat dan petugas pertanian berjumlah 7 (tujuh) Balai Diklat, yaitu:
1. Balai Diklat Mekanisasi Pertanian Batang Kaluku, Sulawesi Selatan;
2. Balai Diklat Agribisnis Tanaman Pangan dan Tanaman Obat Ketindan, Malang;
3. Balai Diklat Agribisnis Ternak Potong dan Teknologi Lahan Kering Noelbaki, Kupang;
4. Balai Diklat Agribisnis Perkebunan dan Teknologi Pasang Surut Binuang, Kal-Sel;
5. Balai Diklat Agribisnis Persusuan dan Teknologi Hasil Ternak Batu, Malang;
6. Balai Diklat Agribisnis Hortikultura Kayuambon, Lembang;
7. Balai Diklat Agribisnis Peternakan dan Kesehatan Hewan Cinagara, Bogor.
IV. Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP)
Sekolah Pertanian Pembangunan merupakan Unit Pelaksana Teknis Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang sekarang telah diserahkan pengelolaannya kepada UPTD Provinsi, saat ini SPP berjumlah 135 yang terdiri dari 85 SPP Negeri dan 50 SPP Swasta.
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian mempunyai Rencana Strategis yang terdiri dari Landasan Operasional dan Strategi Pelaksanaan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian.
Landasan Operasional meliputi Visi, Misi, Kebijaksanaan strategis dan Kebijaksanaan Operasional Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang harus diketahui, dihayati dan selanjutnya diimplementasikan secara operasional di lapangan oleh setiap jajaran yang ada di lingkungan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian baik di Pusat maupun di Daerah.
Untuk itu setiap unit eselon II Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian harus menjabarkan kedalam bentuk program dan kegiatan yang terpadu dengan semangat dan nuansa partisipatif, berkerakyatan, pemberdayaan, berkeadilan dan berkelanjutan serta terdesentralisasi.
Rencana strategis tersebut merupakan suatu tentative action plan empat tahunan bagi unit eselon II yang bersangkutan disamping suatu tentative performance evaluation instrument yang dapat digunakan oleh Kepala Badan maupun unit-unit pengawasan lainnya.
Sedangkan Strategi Pelaksanaan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian meliputi :
1. Kesekretariatan
a. menyusun rencana program dan anggaran pengembangan sumber daya manusia pertanian secara partisipatif, terpadu dan terkoordinasi baik internal maupun eksternal.
b. mengembangkan sistem dan prosedur pelayanan dan pengaturan administrasi Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian yang transparan, efektif dan efisien sesuai dengan perauran dan perundang-undangan yang berlaku.
2. Pengkajian Sumber Daya Manusia Pertanian
a. penyusunan perencanaan sumber daya manusia pertanian;
b. penyusunan perencanaan peningkatan kualitas sumber daya manusia pertanian;
c. penyusunan rancangan pengembangan kesempatan kerja produktif;
d. penyusunan sistem informasi sumber daya manusia pertanian termasuk sistem evaluasi dan monitoring.
3. Pengembangan Penyuluhan Pertanian
a. Internal: melaksanakan penataan sistem dan pengembangan kelembagaan, pengembangan ketenagaan, sistem penyelenggaraan dan pengembangan sarana dan prasarana penyuluhan pertanian.
b. Eksternal:
1. melakukan desentralisasi penyelenggaraan penyuluhan pertanian dalam rangka otonomi daerah;
2. melalukan koordinasi pembinaan kelembagaan dengan instansi terkait di Pusat maupun di Daerah dalam rangka memperkuat fungsi dan peran kelembagaan penyuluhan pertanian dengan pengembangan wilayah.
4. Pengembangan Pendidikan Pertanian
a. Internal: melaksanakan penataan sistem pengembangan kelembagaan, sistem pengembangan ketenagaan, sistem dan metode penyelenggaraan pendidikan serta pengembangan sarana dan prasarana pendidikan pertanian
b. Eksternal: melakukan koordinasi dan kerjasama kemitraan dengan lembaga terkait baik pemerintah maupun swasta dalam rangka pengembangan kerjasama penyelenggaraan pendidikan pertanian berdasarkan prinsip kemitraan kerja sejajar, saling menguntungkan, terbuka, meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan memenuhi ketentuan peraturan perundangan-undangan.
5. Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Pertanian
a. Internal: melakukan penataan sistem dan prosedur pengembangan kelembagaan, ketenagaan dan penyelenggaraan diklat pegawai pertanian.
b. Ekternal:
1. melakukan koordinasi penyusunan rencana diklat pegawai pertanian secara partisipatif dan terpadu dengan instansi terkait baik di tingkat Pusat maupun Daerah dalam rangka mendukung pengembangan wilayah dan otonomi daerah;
2. melakukan desentralisasi penyelenggaraan diklat pegawai pertanian dan melakukan penyerahan pengelolaan Balai Diklat secara bertahap kepada pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan fungsi dan peranan Balai Diklat dalam melaksanakan otonomi daerah.
6. Pengembangan Kewirausahaan Agribisnis
a. Internal: melaksanakan penataan sistem pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, standar pengembangan kewirausahaan agribisnis dan penyelenggaraan diklat kewirausahaan agribisnis.
b. Eksternal:
1. melakukan koordinasi dan sinkronisasi kegiatan instansi terkait dalam rangka mewujudkan perencanaan dan penyelenggaraan program pengembangan kewirausahaan agribinis;
2. mengembangkan kelompok kerja kewirausahaan agribisnis dalam rangka mewujudkan strategi pemberdayaan kader/lembaga, pelopor/penggerak agribisnis yang handal, masyarakat pelaku agribisnis dan proses pembelajaran kewirausahaan yang sesuai dengan kebutuhan dan lokalita spesifik.
Diposting oleh
Mhd. Amar Faiz, A.Md.
di
04.04
0
komentar
STRUKTUR PAVEMENT DAN SHOULDER SERTA PEMELIHARAANNYA
Hasil survei telah menunjukkan bahwa kekuatan struktural dari pavement sebagian besar dipengaruhi oleh kualitas pemeliharaan dari shoulder. Pemeliharaan yang baik sangat diperlukan jika mengharapkan agar permukaan air bisa dipindahkan dari tepi pavement pada waktu permukaan pavement basah. Sumber utama air dipermukaan sebagian besar disebabkan oleh air yang menggenang pada pavement.
Pada sisi atas dari kurva horizontal, banyak para insinyur menempatkan suatu lapisan seperti keset dari aspal selebar 18 sampai 24 inchi, yang bisa mengurangi kemungkinan bekas roda pesawat membentuk suatu cekungan pada pavement karena drop-off pesawat. Karena beban pesawat yang besar pada saat melintas, lama kelamaan bekas roda dapat membekas. Hal ini sangat berpotensi sebagai sumber dari genangan air yang selalu merepotkan.
Kapan grass shoulder atau bahu rumput digunakan, ada kecenderungan untuk membangun grass shoulder ini sebagai hasil dari sistem akar dan juga penyusupan atau perembesan dari debu dan serpihan-serpihan rumput. Pembangunan ini mengakibatkan suatu pembengkakan yang membekas. Ini harus ditinjau secara serius tidak hanya dari sudut keselamatan tetapi juga harus ditinjau dari sudut pandang lainnya seperti mengakibatkan terjebaknya air pada runoff. Jika grass shoulder ini dibangun, haruslah disertai dengan pertimbangan keamanan dan akibatnya pada pavement dan keserasiannya dengan lampu penanda runway yang berfungsi sebagai pembimbing roda pesawat pada saat landing dan take-off.
SHOULDER YANG DISTABILKAN
Hasil survei telah menunjukkan bahwa peningkatan kualitas dari pavement akan mengakibatkan dan menghasilkan penggunaan dari shoulder yang perlu distabilkan. Material-material yang digunakan untuk disain stabilisasi shoulder ini terdiri dari soil gravel (tanah kerikil), soil sand (tanah berpasir), crushed stone (batu pecah), atau perawatan lapisan permukaan seperti aspal dan material-material lainnya. Prinsipnya meliputi perancangan, dan yang paling utama stabilisasinya, hampir sama dengan penstabilan shoulder suatu jalan.
Didalam kasus ini material harus berkualitas dan tidak boleh mudah terkikis, serta tidak mudah mengalami penyusutan. Hasil yang memuaskan akan tercapai jika material yang digunakan memiliki gradasi yang baik dan memenuhi standar yang ditetapkan. Ketebalan dari shoulder yang distabilkan ini sebagian besar tergantung pada tinjauan dari sisi ekonomisnya, tetapi pada umumnya hasil yang baik diperoleh jika shoulder itu dibuat dengan kedalaman 4 sampai 6 inchi.
Sebagai tambahan terhadap penyediaan kapasitas muatan, shoulder harus memperkecil penyusutan permukaan runway, seperti menyediakan struktur yang fleksibel. Untuk memenuhi persyaratan ini, shoulder yang distabilkan harus padat dan tebal dinilai untul banyaknya kapasitas yang dapat dilalui. Tetapi itu juga harus sesuai dan serasi dengan kepadatannya.
Diposting oleh
Mhd. Amar Faiz, A.Md.
di
03.47
0
komentar